Tujuan pengujian bend test ini adalah untuk mengetahui sifat keuletan/ductility dan kemulusan/soundness dari pengelasan.
Prinsipnya specimen di diletakkan di mesin uji kemudian di lakukan pembengkokan sampai membentuk huruf āUā (180ļ°) pada area pengelasan di sebuah specimen sehingga akan menghasilkan kontur yang diinginkan. Pengecekan di lakukan pada permukaan yang cembung pada specimen yang telah di bengkokkan tadi, apakah ada keretakan (craks) atau cacat yang lainnya. Pada umumnya jenis specimen yang di gunakan untuk pengujian guided bend test adalah berbentuk persegi panjang dari plate atau pipa yang telah di machining. Untuk menyamakan peresepsi tentang bagian-bagian dari specimen akan di sederhanakan istilahnya sebagai berikut: Permukaan lasan yang lebar di sebut capping sedangkan permukaan lasan yg sempit di sebut root.
Ada beberapa jenis specimen uji bengkok yang di atur dalam ASTM E190-92, di antaranya sbb:
a. Transverse Side Bend
Panjang specimen uji melintang terhadap lasan, bagian sisi las menghadap Gap dari mesin uji, bagian atas mengalami penekanan dimana sisi lasan menjadi bengkok dan merupakan area yang dicek.
b. Transverse Face Bend
Panjang specimen uji melintang terhadap lasan, bagian caping menghadap Gap dari mesin uji bagian root mengalami penekanan, dimana face weld/capping menjadi bengkok dan merupakan area yang dicek
c. Transverse Root Bend
Panjang specimen uji melintang terhadap lasan, bagian root menghadap Gap dari mesin uji bagian capping mengalami penekanan, dimana bagian root menjadi bengkok dan merupakan area yang dicek.
d. Longitudinal Face Bend
Panjang specimen uji sejajar terhadap lasan, bagian face menghadap Gap dari mesin uji bagian root mengalami penekanan, dimana face weld/capping menjadi bengkok dan merupakan area yang dicek
e. Longitudinal Root Bend
Panjang specimen uji sejajar terhadap lasan, bagian root menghadap Gap dari mesin uji bagian capping mengalami penekanan, dimana face root menjadi bengkok dan merupakan area yang dicek.
Hasil pengecekan (Intrepretaion of Result) di lakukan pada sisi yang cembung apakah ada crack/defect apa tidak. Ketika pengujian yang di lakukan, acceptance criteria dan ukuran crack yang di perbolehkan harus sesuai dengan code yang telah di tentukan.
Materi di atas merupakan hasil training Destructive test yang di promotori oleh IKBAL M YOS bekerja sama dengan PT. HI-Test Laboratory of Mechanical Testing, Batam Centre dengan menggunakan Code AWS D1.1 :2006 sebagai acceptance criterianya dan ASTM E190-92 sebagai test methodanya. Apabila ada kritik yang bersifat membangun, mohon rekan-rekan senior WI untuk sudi berbagi pengalamannya tentang destructive test di sini.
Popularity: 27%
Related posts:





